TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Melihat gerakan dan gaya yang secara kasat mata membahayakan, Nando mengakui setiap personel Parkour pernah mengalami cedera
Parkour,
olahraga ekstrem itu mulai digandrungi kawula muda di Kota Manado.
Wujud nyata olahraga ini seseorang terlihat melakukan berbagai gerakan
seperti koprol, melompat, berlari dan melalui halaman di depannya dengan
berbagai macam gerakan. Dalam pengertiannya Parkour merupakan aktivitas
yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan
efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan
manusia.
Fernando Manginsihi selaku ketua komunitas Parkour di Kota
Manado menjelaskan pembentukan Parkour di Manado sejak tahun 2008 dan
baru satu-satunya di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ini.
"Selain
Parkour kami lebih menyebutnya komunitas stuntman, free style atau
kebanyakan disebut flip lewat obstacle semua benda umum yang boleh
dijadikan halangan untuk kami lalui," tutur Nando sapaannya di sela-sela
latihan di halaman sekretariat DPD I KNPI Manado, Senin (21/10).
Ia
menyatakan, bergabungnya 40 puluh pemuda dari Manado dan sekitarnya
dilatarbelakangi kegandrungan melihat komunitas Yamakasi yang sangat
populer di Jepang. "Dalam seminggu kami rutin latihan tiga kali di
gedung KONI dan tempat lainnya. Kalau ada event latihan empat sampai
lima kali seminggu," tambahnya.
Setiap penampilan komunitas ini mendapatkan semacam kontribusi uang jasa.
"Personel
kami berlatar belakang mahasiswa, karyawan swasta, pelajar hingga ada
yang masih SMP. Kami menggeluti ini karena suka dengan tantangan serta
bisa juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk bela diri atau
saat ingin ke tempat lain lewat jalan pintas dan cepat," sebutnya.
Melihat
gerakan dan gaya yang secara kasat mata membahayakan, Nando mengakui
setiap personel Parkour pernah mengalami cedera yang disebabkan dari
gerakan ekstrem Parkour. "Pernah cedera namun tidak sampai patah tulang,
karena kami lebih pentingkan safety-nya untuk jatuh agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan," kata dia.
Dalam berbagai event
yang mereka ikuti biasanya mereka tampil dengan lagu dan tanpa lagu
karena Parkour tidak bergantung pada lagu.
"Kami menggeluti ini
bukan hanya asal-asalan melainkan ada materi yang diperoleh dari Parkour
Indonesia yang dipelajari secara bertahap. Rintangan atau halangan
yang paling sulit untuk ditaklukkan seperti pagar besi yang tingginya
maksimal 2 meter dan tajam," demikian Nando.(crz)
http://manado.tribunnews.com/2013/10/22/komunitas-parkour-kami-suka-tantangan
Home
»
»Unlabelled
» News : Komunitas Parkour Manado, Kami Suka Tantangan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment