1:40 PM
0
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Melihat gerakan dan gaya yang secara kasat mata membahayakan, Nando mengakui setiap personel Parkour  pernah mengalami cedera
Parkour, olahraga ekstrem itu mulai digandrungi kawula muda di Kota Manado. Wujud nyata olahraga ini seseorang terlihat melakukan berbagai gerakan seperti koprol, melompat, berlari dan melalui halaman di depannya dengan berbagai macam gerakan. Dalam pengertiannya Parkour merupakan aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia.
Fernando Manginsihi selaku ketua komunitas Parkour di Kota Manado menjelaskan pembentukan Parkour di Manado sejak tahun 2008 dan baru satu-satunya di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ini.
"Selain Parkour kami lebih menyebutnya komunitas stuntman, free style atau kebanyakan disebut flip lewat obstacle semua benda umum yang boleh dijadikan halangan untuk kami lalui," tutur Nando sapaannya di sela-sela latihan di halaman sekretariat DPD I KNPI Manado, Senin (21/10).
Ia menyatakan, bergabungnya 40 puluh pemuda dari Manado dan sekitarnya dilatarbelakangi kegandrungan melihat komunitas Yamakasi yang sangat populer di  Jepang. "Dalam seminggu kami rutin latihan tiga kali di gedung KONI  dan tempat lainnya. Kalau ada event latihan empat  sampai lima kali seminggu," tambahnya.
 Setiap penampilan komunitas ini mendapatkan semacam kontribusi uang jasa.
"Personel kami berlatar belakang mahasiswa, karyawan swasta, pelajar hingga ada yang masih SMP. Kami menggeluti ini karena suka dengan tantangan serta bisa juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk bela diri atau saat ingin ke tempat lain lewat jalan pintas  dan cepat," sebutnya.
Melihat gerakan dan gaya yang secara kasat mata membahayakan, Nando mengakui setiap personel Parkour  pernah mengalami cedera yang disebabkan dari gerakan ekstrem Parkour. "Pernah cedera namun tidak sampai patah tulang, karena kami lebih pentingkan safety-nya untuk jatuh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata dia.
Dalam berbagai event yang mereka ikuti biasanya mereka tampil dengan lagu dan tanpa lagu karena Parkour tidak bergantung pada lagu.
"Kami menggeluti ini bukan hanya asal-asalan melainkan ada materi yang diperoleh dari Parkour Indonesia yang dipelajari secara bertahap. Rintangan atau halangan yang  paling sulit untuk ditaklukkan seperti pagar besi yang tingginya maksimal 2 meter dan tajam," demikian Nando.(crz)

http://manado.tribunnews.com/2013/10/22/komunitas-parkour-kami-suka-tantangan

0 comments:

Post a Comment